Gereja Katholik Santo Stefanus Belawan
Lakukan sesuatu yang kamu anggap baik, jangan pernah gagalkan biarkan jiwamu bekerja. Berbuat lebih baik dari tidak,permulaan memang sangat sulit tapi kalau sudah dijalanin akan mengasikkan. Coba deh....
Blog ini dalam pengembangan, mohon saran dan ide yang membangun, serta ikut serta dalam menyumbangkan tulisannya

Pengertian Dosa

8:10 AM
DOSA

Dosa ialah suatu perbuatan yang menyebabkan terputusnya hubungan antara manusia dengan Allah, karena manusia mencintai dirinya atau hal-hal lain sedemikian rupa sehingga menjauhkan diri dari cinta kasih Allah.

Seseorang dikatakan berdosa apabila perbuatannya melwan cinta kasih Allah itu dilakukan dengan BEBAS (tidak dalam keadaan dipaksa), SADAR (tidak dalam keadaan terbius), TAHU (mengerti bahwa perbuatan itu jahat)

Dosa menciptakan kecondongan kepada dosa; pengulangan perbuatan-perbuatan jahat yang sama mengakibatkan kebiasaan buruk. Hal ini mengakibatkan terbentuknya kecenderungan yang salah, menggelapkan hati nurani dan menghambat keputusan konkret mengenai yang baik dan yang buruk. Dosa cenderung terulang lagi dan diperkuat, namun ia tidak dapat menghancurkan seluruh perasaan moral. (KGK 1865)

Kebiasaan buruk dapat digolongkan menurut kebajikan yang merupakan lawannya, atau juga dapat dihubungkan dengan dosa-dosa pokok yang dibedakan dalam pengalaman Kristen menurut ajaran santo Yohanes Kasianus dan santo Gregorius Agung Bdk. mor 31,45.. Mereka dinamakan dosa-dosa pokok, karena mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain. Dosa-dosa pokok adalah kesombongan, ketamakan, kedengkian, kemurkaan, percabulan, kerakusan kelambanan, atau kejemuan [acedia].(KGK 1866)

Tradisi kateketik juga mengingatkan, bahwa ada dosa-dosa yang berteriak ke surga. Yang berteriak ke surga adalah darah Abel Bdk. Kej 4:10., dosa orang Sodom Bdk.Kej 18:20; 19:13., keluhan nyaring dari umat yang tertindas di Mesir Bdk. Kel 3:7-10., keluhan orang-orang asing, janda dan yatim piatu, Bdk. Kel 22:20-22. dan upah kaum buruh yang ditahan Bdk, Ul 24:14-15; Yak.5:4..(KGK 1867)

Dosa adalah satu tindakan pribadi. Tetapi kita juga mempunyai tanggung jawab untuk dosa orang lain kalau kita turut di dalamnya,(KGK 1868)

*
kalau kita mengambil bagian dalam dosa itu secara langsung dan dengan suka rela,
*
kalau kita memerintahkannya, menasihatkan, memuji, dan membenarkannya,
*
kalau kita menutup-nutupinya atau tidak menghalang-halanginya, walaupun kita berkewajiban untuk itu,
*
kalau kita melindungi penjahat.

Dengan demikian dosa membuat manusia menjadi teman dalam kejahatan dan membiarkan keserakahan, kekerasan, dan ketidakadilan merajaleIa di antara mereka. Di tengah masyarakat, dosa-dosa itu mengakibatkan situasi dan institusi yang bertentangan dengan kebaikan Allah. "Struktur dosa" adalah ungkapan dan hasil dosa pribadi, Mereka menggoda kurban-kurbannya, supaya ikut melakukan yang jahat. Dalam arti analog mereka merupakan "dosa sosial" Bdk. RP 16.. (KGK 1869)

"Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua" (Rm 11:32).(KGK 1870)

Dosa adalah satu "perkataan, perbuatan, atau satu keinginan yang bertentangan dengan hukum abadi" (Agustinus, Faust. 22,27) Dikutip oleh TomasAqu., s.th. 1-2,71,6, obj. 1: sc.. Satu penghinaan terhadap Allah. Ia membangkang terhadap Allah dalam ketidaktaatan, yang berlawanan dengan ketaatan Kristus.(KGK 1871)

Dosa adalah satu tindakan melawan akal budi. Ia melukai kodrat manusia dan mengganggu solidaritas manusia.(KGK 1872)

Akar dari semua dosa terletak di dalam hati manusia. Macamnya dan beratnya ditentukan terutama menurut obyeknya.(KGK 1873)

Siapa yang dengan sengaja, artinya dengan tahu dan mau, menjatuhkan keputusan kepada sesuatu yang bertentangan dengan hukum ilahi dan dengan tujuan akhir manusia dalam hal yang berat, ia melakukan dosa berat. Dosa itu merusakkan kebajikan ilahi di dalam kita, kasih, dan tanpa kasih tidak ada kebahagiaan abadi. Kalau ia tidak disesali, ia akan mengakibatkan kematian abadi.(KGK 1874)

Dosa ada 2 bagian :
> Dosa Berat

Dosa-dosa harus dinilai menurut beratnya. Pembedaan antara dosa berat dan dosa ringan yang sudah dapat ditemukan dalam Kitab Suci Bdk. I Yoh 6:16-17. diterima oleh tradisi Gereja. Pengalaman manusia menegaskannya. (KGK 1854)

Dosa berat merusakkan kasih di dalam hati manusia oleh satu pelanggaran berat melawan hukum Allah. Di dalamnya manusia memalingkan diri dari Allah, tujuan akhir dan kebahagiaannya dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih rendah. Dosa ringan membiarkan kasih tetap ada, walaupun ia telah melanggarnya dan melukainya. (KGK 1855)
Karena dosa berat merusakkan prinsip hidup di dalam kita, yaitu kasih, maka ia membutuhkan satu usaha baru dari kerahiman Allah dan suatu pertobatan hati yang secara normal diperoleh dalam Sakramen Pengakuan:

"Kalau kehendak memutuskan untuk melakukan sesuatu yang dalam dirinya bertentangan dengan kasih, yang mengarahkan manusia kepada tujuan akhir, maka dosa ini adalah dosa berat menurut obyeknya.... entah ia melanggar kasih kepada Allah seperti penghujahan Allah, sumpah palsu, dan sebagainya atau melawan kasih terhadap sesama seperti pembunuhan, perzinaan, dan sebagainya... Sedangkan, kalau kehendak pendosa memutuskan untuk membuat sesuatu yang dalam dirinya mencakup satu kekacauan tertentu, tetapi tidak bertentangan dengan kasih Allah dan sesama, seperti umpamanya satu perkataan yang tidak ada gunanya, tertawa terlalu banyak, dan sebagainya, maka itu adalah dosa ringan" (Tomas Aqu.,s.th. 1-2,88,2). (KGK 1856)

Supaya satu perbuatan merupakan dosa berat harus dipenuhi secara serentak tiga persyaratan: "Dosa berat ialah dosa yang mempunyai materi berat sebagai obyek dan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan dengan persetujuan yang telah dipertimbangkan" (RP#17). (KGK 1857)
Apa yang merupakan materi berat itu, dijelaskan oleh sepuluh perintah sesuai dengan jawaban Yesus kepada pemuda kaya: "Engkau jangan membunuh, jangan berzinah jangan mencuri, jangan bersaksi dusta... hormatilah ayahmu dan ibumu" (Mrk 10:19). Dosa-dosa dapat lebih berat atau kurang berat: pembunuhan lebih berat daripada pencurian. Juga sifat pribadi orang yang dilecehkan, harus diperhatikan: tindakan keras terhadap orang-tua bobotnya lebih berat daripada terhadap seorang asing. (KGK 1858)

Dosa berat menuntut pengertian penuh dan persetujuan penuh. Ia mengandaikan pengetahuan mengenai kedosaan dari suatu perbuatan, mengenai kenyataan bahwa ia bertentangan dengan hukum Allah. Dosa berat juga mencakup persetujuan yang dipertimbangkan secukupnya, supaya menjadi keputusan kehendak secara pribadi. Ketidaktahuan yang disebabkan oleh kesalahan dan ketegaran hati Bdk. Mrk 3:5-6; Luk 16:19-31. tidak mengurangi kesukarelaan dosa, tetapi meningkatkannya. (KGK 1859)

Ketidaktahuan yang bukan karena kesalahan pribadi dapat mengurangkan tanggungjawab untuk satu kesalahan berat, malahan menghapuskannya sama sekali. Tetapi tidak dapat diandaikan bahwa seseorang tidak mengetahui prinsip-prinsip moral yang ditulis di dalam hati nurani setiap manusia. Juga rangsangan naluri, hawa nafsu serta tekanan yang dilakukan dari luar atau gangguan yang tidak sehat dapat mengurangkan kebebasan dan kesengajaan dari satu pelanggaran. Dosa karena sikap jahat atau karena keputusan yang telah dipertimbangkan untuk melakukan yang jahat, mempunyai bobot yang paling berat. (KGK 1860)

Dosa berat, sama seperti kasih, adalah satu kemungkinan radikal yang dapat dipilih manusia dalam kebebasan penuh. Ia mengakibatkan kehilangan kebajikan ilahi, kasih, dan rahmat pengudusan, artinya status rahmat. Kalau ia tidak diperbaiki lagi melalui penyesalan dan pengampunan ilahi, ia mengakibatkan pengucilan dari Kerajaan Kristus dan menyebabkan kematian abadi di dalam neraka karena kebebasan kita mempunyai kekuasaan untuk menjatuhkan keputusan yang definitif dan tidak dapat ditarik kembali. Tetapi meskipun kita dapat menilai bahwa satu perbuatan dari dirinya sendiri merupakan pelanggaran berat, namun kita harus menyerahkan penilaian mengenai manusia kepada keadilan dan kerahiman Allah. (KGK 1861)

Dosa ringan dilakukan, apabila seorang melanggar peraturan hukum moral dalam materi yang tidak berat atau walaupun hukum moral itu dilanggar dalam materi yang berat, namun dilakukan tanpa pengetahuan penuh dan tanpa persetujuan penuh. (KGK 1862)

Dosa ringan memperlemah kebajikan ilahi, kasih; di dalamnya tampak satu kecondongan yang tidak teratur kepada barang-barang ciptaan; ia menghalang-halangi bahwa jiwa mengalami kemajuan dalam pelaksanaan kebajikan dan dalam kegiatan kebaikan moral; ia mengakibatkan siksa-siksa sementara. Kalau dosa ringan dilakukan dengan sadar dan tidak disesalkan, ia dapat mempersiapkan kita secara perlahan-lahan untuk melakukan dosa berat. Tetapi dosa ringan tidak menjadikan kita lawan terhadap kehendak dan persahabatan Allah; ia tidak memutuskan perjanjian dengan Allah. Dengan rahmat Allah, ia dapat diperbaiki lagi secara manusiawi. Ia tidak "mencabut rahmat yang menguduskan dan mengilahikan, yakni kasih serta kebahagiaan abadi" (John Paul II, RP 17 # 9.).

"Selama manusia berziarah di dalam daging, ia paling sedikit tidak dapat hidup tanpa dosa ringan. Tetapi jangan menganggap bahwa dosa yang kita namakan dosa ringan itu, tidak membahayakan. Kalau engkau menganggapnya sebagai tidak membahayakan, kalau menimbangnya, hendaknya engkau gemetar, kalau engkau menghitungnya. Banyak hal kecil membuat satu timbunan besar; banyak tetesan air memenuhi sebuah sungai; banyak biji membentuk satu tumpukau. Jadi,.harapan apa yang kita miliki? Di atas segala-galanya pengakuan".

"Tetapi apabila seorang menghujah Roh Kudus", ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, tetapi bersalah karena berbuat dosa kekal" (Mrk 3:29) Bdk. Mat 12:32; Luk 12:10. Kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan dosa-dosanya dan keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus Bdk. DeV 46.. Ketegaran hati semacam itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian dan dapat menyebabkan kemusnahan abadi. (KGK 1864).

Dosa ringan merupakan gangguan moral yang dapat diperbaiki lagi dengan kasih ilahi, yang bagaimanapun tetap ada di dalam kita. (KGK 1875) Pengulangan dosa, juga dosa ringan, membawa kepada kebiasaan buruk, antara lain kepada apa yang dinamakan dosa-dosa pokok.
Read On 0 comments

Memahami Doa Bapa Kami

2:59 PM
Pemahaman Doa Bapa Kami

Doa "Bapa Kami" versi Injil Matius terdapat dalam Mat 6:5-15, di mana Yesus mengajarkan bagaimana seharusnya para murid berdoa. Dalam pengajaran tersebut, Yesus menasihatkan dua hal penting sehubungan dengan doa. Pertama , Ia menasihati para muridNya, agar mereka "jangan berdoa seperti orang munafik", yang suka
memamerkan doanya di hadapan orang banyak (bdk ay 5). Untuk mencegah kemunafikan, baiklah para murid berdoa di tempat tersembunyi, yang jauh dari keramaian (bdk ay 6). Kedua, Yesus menasihati para muridNya, supaya dalam berdoa, mereka "jangan bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah" (bdk ay 7). Daripada bertele-tele, jauh lebih baik mereka langsung menyampaikan apa yang mereka perlukan; sebab sebelum mereka minta, sesungguhnya Allah telah mengetahuinya (bdk ay 8). Sesudah Yesus menasehatkan dua hal penting tersebut, Ia kemudian mengajarkan doa "Bapa Kami" berikut ini:

"Bapa kami yang ada di surga:
Dikuduskanlah namaMu,
datanglah kerajaanMu,
jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam percobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat."
(Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanva. Amin.)



Doa singkat ini dibuka dengan menyapa Allah sebagai "Bapa". Selanjutnya disampaikan enam permohonan yang tersusun secara paralel. Tiga permohonan dimaksudkan bagi "kepentingan Allah" dan tiga permohonan dimaksudkan bagi "keperluan manusia", Bagi kepentingan Allah, dimohonkan agar nama-Nya dikuduskan, kerajaanNya datang, dan kehendak-Nya terjadi (bdk ay 9-10). Sedangkan bagi keperluan manusia, dimohonkan agar diberi makanan secukup-nya, diampuni kesalahannya, dan dilepaskan dari yang jahat (bdk ay 11-13) . Supaya isi doa ini dapat dipahami dengan baik, berikut ini akan dijelaskan dengan ringkas makna dari setiap permohonan.

(a) "Bapa kami yang di surga"

Dalam pengajaranNya kepada para murid, Yesus memang sering kali menyebut Allah sebagai "Bapamu yang di surga" (bdk Mat 5:16.45.48; 6:14.26.32; 7:11; 18:14) atau "BapaKu yang di surga" (bdk Mat 7:21; 10:32.33; 12:50; 18:10.19.35) , sebab "Bapa" para murid dan "Bapa" Yesus adalah sama (bdk Yoh 20:17) . Mereka tidak boleh menyebut siapapun "bapa di bumi ini", karena mereka hanya mempunyai satu "Bapa", yaitu "Dia yang di surga" (bdk Mat 23:9). Dengan menyebut Allah sebagai "Bapa", relasi manusia dengan Allah telah ditingkatkan dari relasi antara "cipiaan" dan "Pencipia" menjadi relasi antara "anak" dan "Bapa" (bdk Mrk 14:36; Rom 8:15; Gal 4:6). Lain dari relasi "ciptaan" dan "Pencipta" yang sangat renggang (bdk Yes 55:9), relasi "anak" dan "Bapa" sangat intim, sehingga mereka saling mengenal baik satu sarna lain (bdk Mat 11:27) . Para murid dapat mengenal "Bapa" dengan baik, karena Yesus telah memperkenalkanNya kepada mereka (bdk Yoh 1:18; 14:6-11). Sebagai sahabat-sahabat Yesus (bdk Yoh 15:15) , para murid telah menyatu dengan Yesus (bdk Yoh 6:56; 17:23), sehingga bersama Dia mereka boleh berseru: "Ya Abba, ya Bapa (bdk Rom 8:15; Gal 4:6) . Jadi dengan berseru: "Bapa kami yang di surga" (bdk Mat 6:9), para murid membangun relasi yang akrab dengan Allah, sehingga mereka dapat berdoa dengan santai, tanpa takut untuk menyampaikan permohonan mereka kepada Allah.
Untuk menumbuhkan semangat kebersamaan di antara para murid, secara khusus dipakai kata "kami", bukan kata "aku", Sebab Allah memang bukan Bapa untuk satu orang atau sekelompok orang saja, melainkan Bapa bagi semua orang (bdk Mat 5:45).

(b) "Dikuduskanlah namaMu"

Bagi bangsa Israel , nama bukan hanya sekedar sebutan, panggilan atau tanda pengenal; tetapi menyatakan sifat, karakter atau kepribadian yang memilikinya (bdk 1 Sam 25:25). Jadi "menguduskan nama Allah" berarti memuliakan, membesarkan atau meninggikan jatidiri Allah. Para nabi memang sering mengungkapkan keinginan Allah untuk "menguduskan namaNya" di tengah bangsa-bangsa (bdk Yeh 36:23), khususnya di kalangan bangsa Israel (bdk Yes 29:23). Sehubungan dengan keinginan Allah tersebut, bangsa Israel harus berusaha untuk memelihara "kekudusan nama Allah" (bdk Im 18:21; 19:12; 21:6), dengan hidup. kudus sesuai dengan perintah Allah (bdk Im 18:1-5; 19:1-2; 20:7.26). Dalam konteks itulah, Yesus mengajak para muridNya untuk "menguduskan nama Allah", yakni dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik di tengah-tengah orang banyak, supaya dengan melihat perbuatan-perbuatan baik tersebut, mereka pun akhirnya "memuliakan Bapa yang di surga" (bdk Mat 5:16). Jadi nama Allah dikuduskan pertama-tama dengan "perbuatan baik", bukan dengan "ucapan bibir" (bdk Yes 29:13; Mat 15:8; Mrk 7:6). Tidak cukup dengan berseru: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan!" (bdk Yes 6:3; Why 4:8), melainkan dengan berbuat baik dalam hidup sehari-hari (bdk Mat 7:21; 2 Tes 3:13; Yak 2:14).

(c) "Datanglah kerajaanMu"

Menurut keyakinan bangsa Israel , "Tuhan adalah Raja untuk seterusnya dan selama-lamanua" (bdk Mzm 10:16; 29:10; 146:10). Bukan hanya Raja atas bangsa Israel , melainkan Raja atas seluruh bumi (bdk Mzm 47:3.8; Za 14:9). Berbeda dengan raja-raja lain, Tuhan adalah "Raja Kemuliaan " (bdk Mzm 24:7-10) alias "Raja segala raja" (bdk Dan 8:25), yang harus disembah oleh semua orang dari segala bangsa, termasuk para raja (bdk Za 14:16). Jadi memohon agar "kerajaan Allah datang" berarti meminta supaya Allah segera menjadi Raja atas seluruh bumi, sehingga semua orang sujud menyembah Dia sebagai Raja semesta alam dengan berhiaskan kekudusan hidup (bdk 1 Taw 16:29-31; Mzm 96:8-10). Jika Allah sudah meraja di atas bumi, permusuhan dan peperangan tidak akan ada lagi (bdk Yes 9:4; 11:6-8). Seluruh bumi akan dipenuhi dengan damai sejahtera yang abadi dan tidak berkesudahan, (bdk Yes 9:6a). Sebagai "Raja Damai" (bdk Yes 9:5), Allah akan memerintah dengan keadilan, kebenaran, kejujuran dan kesetiaan (bdk Yes 9:6b; 11:4-5); sehingga tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk" sebab "selurun bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan" (bdk Yes 11:9). Dengan kedatangan Yesus untuk menyatakan Allah di bumi ini (bdk Yoh 1:18), sesungguhnya "kerajaan Surga (Allah) sudah dekat" (bdk Mat 4:17; Mrk 1:15). Nubuat nabi Yesaya ten tang tahun rahmat Tuhan (bdk Yes 61:1-2) telah mulai terpenuhi (bdk Luk 4:17-21). Sebab di dalam Yesus, mulai terbit kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh kudus (bdk Rom 14:17).

(d) "Jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga"

Sebagai Pencipta langit dan bumi dengan segala isinya, Allah memang patut dihormati oleh semua ciptaan baik di bumi maupun di langit (surga), dengan hidup sesuai dengan kehendakNya (bdk Mzm 40:9; 143:10). Dalam hal ini, Yesus telah memberikan contoh, bagaimana seharusnya manusia hidup, yaitu dengan senantiasa melakukan kehendak Allah (bdk Y oh 4:34; Ibr 10:7.9). Yang menjadi pedoman hidup bukan lagi kehendak sendiri, melainkan kehendak Allah: "Bukan-lah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi" (bdk Luk 22:42; Mat 26:39; Mrk 14:36). Menurut Yesus, pelaksanaan kehendak Allah merupakan pintu masuk ke dalam Kerajaan Allah (bdk Mat 7:21) , dan menjadi tolok ukur persaudaraan dengan Yesus (bdk Mat 12:50; Mrk 3:35; Luk 8:21) . Karena itu, Paulus menasihatkan agar orang Kristen berusaha untuk mengetahui kehendak Allah dan hidup sesuai dengannya (bdk Rom 12:2; Ef 5:17). Barangsiapa mengakui Tuhan sebagai Raja semesta alam (bdk Mzm 47:3.8; Za 14:9), ia pasti akan bersikap dan berlaku seperti Maria, yaitu menyadari statusnya sebagai hamba Tuhan, sehingga selalu siap sedia untuk melaksanakan kehendakNya: "Sesungguh-nya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (bdk Luk 1:38; 17:10). Meskipun kehendak Allah sulit dipahami (bdk Luk 1:34), ia berani menanggung resiko, sebab ia yakin bahwa Allah menghendaki keselamatan, bukan kebinasaan (bdk Yeh 18:23.32; 1 Tim 2:4; 2 Ptr 3:9). Jadi memohon agar "kehendak Allah terjadi di bumi dan di surga" berarti meminta supaya kehormatan Allah, sebagai Pencipta langit dan bumi (bdk Kej 14:19), dipulihkan kembali (bdk Mal 1:6) .

(e) "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya"

Makanan dan pakaian adalah dua kebutuhan dasariah manusia (bdk VI 10:18; 1 Tim 6:8). Meskipun demikian, manusia tidak perlu kuatir akan apa yang hendak ia makan dan apa yang hendak ia pakai (bdk Mat 6:25.31), sebab Allah mengetahui apa yang diperlukan manusia (bdk Mat 6:32). Jika Allah tahu memperhatikan keperluan binatang dan tumbuhan dengan baik, tentu Ia juga akan memperhatikan keperluan manusia yang jauh lebih berharga daripada binatang dan tumbuhan (bdk Mat 6:26-30). Bukankah sejak semula, Allah telah memberikan makanan dan pakaian kepada manusia (bdk Kej 1:29; 3:21) Asal manusia mau berusaha, ia tentu akan mendapatkan makanan yang diperlukan, (sebab Allah tidak pernah lalai untuk memperhatikan ciptaanNya. Allah selalu memberi makanan kepada semua makhluk hidup, masing-masing pada waktunya (bdk Mzm 104:27). Supaya dapat hidup, manusia hanya membutuhkan makanan secukupnya setiap hari, tidak perlu berlebihan. Sebab hidup manusia tidak bergantung pada kelimpahan makanan, tetapi pada kekuasaan Allah (bdk Luk 12:16-21) . Karena itu, baik Yesus maupun Paulus menasihatkan agar orang beriman waspada terhadap segala ketamakan (bdk Luk 12:15; 1 Tim 6:9-10). Orang beriman harus hidup dengan rasa cukup atas anugerah Allah setiap hari (bdk Mat 6:34; 1 Tim 6:6-7) . "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah", kata Paulus (bdk 1 Tim 6:8) .

(f)"Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami"

Menurut kepercayaan bangsa Israel , Tuhan adalah Allah yang mahapengasih dan mahapenyayang, sehingga suka mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa manusia (bdk Kel 34:6-7; Bil 14:18; Neh 9:17; Mzm 78:38; 86:5; 103:3; Mi 7:18). Sekalipun dosa manusia sangat besar dan berat, tetapi jika ia memohon pengampunan, Allah pasti sudi mengampuninya (bdk Kej 18:16-33). Sebagai anak-anak Allah, para murid dituntut untuk menjadi sempurna sama seperti Allah: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna" (bdk Mat 5:48). Mereka juga: harus murah hati sarna seperti Allah: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati!" (bdk Luk 6:36). Tidak hanya terhadap teman, melainkan juga terhadap musuh (bdk Mat 5:44; Luk 6:27-28.35). Dalam hal pengampunan, mereka harus bersikap seperti Allah yang senantiasa sudi mengampuni terus-menerus, tanpa memakai perhitungan (bdk Mat 18:21-22; Luk 17:3-4). Apabila Allah rela mengampuni dosa mereka, maka seharusnya mereka juga rela mengampuni dosa orang lain (bdk Mat 18:23-35) . Kerelaan untuk mengampuni dosa sesama akan membuat Allah juga rela mengampuni dosa mereka: "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu!" (bdk Mat 6:14-15; Mrk 11:25-26; Luk 6:37-38). Karena itu, sebelum berdoa untuk memohon pengampunan atas dosa mereka sendiri, para murid harus terlebih dahulu sudi mengampuni orang yang berdosa terhadap mereka (bdk Mat 5:23-24; Mrk'11:25), sekaligus memohonkan pengampunan Allah bagi dia (bdk Luk 23:34) .

(g) "Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat"

Pencobaan adalah suatu ujian terhadap iman seseorang (bdk Yak 1:2-3.12). Pelaku pencobaan bisa Allah sendiri (bdk Kej 22:1-19), tetapi bisa juga Iblis dengan seizin Allah (bdk Ayb 1:1-2:13). Meskipun demikian, sesungguhnya pencobaan tidak datang dari Allah atau Iblis, melainkan dari keinginan manusia sendiri (bdk Yak 1:13-14). Dalam sejarah keimanan manusia, tidak banyak orang yang lulus ujian iman, seperti Abraham (bdk Kej 22:1-19), Ayub (bdk Ayb 1:1- 2:13) , Eleazar (2 Mak 6:18-31) dan Yesus (bdk Mat 4:1-11; Mrk 1:12-;1.3; Luk 4:1-13). Kebanyakan manusia sama dengan Adam dan Hawa, yaitu cenderung tergoda dan jatuh ke dalam dosa (bdk Kej 3:1-7). Apabila berhadapan dengan tipu daya kenikmatan duniawi, mereka mudah jatuh ke dalam pencobaan (bdk Mat 13:22; Mt:k 4:19; Luk 8:14; 1Tim 6:9-10). Demikian pula, jika mengalarni penindasan dan penganiayaan karena iman, mereka dengan gampang murtad. (bdk Mat 13:21; Mrk 4:17; Luk 8:13). Sadar akan kelemahan manusiawi tersebut, Yesus menasihati para muridNya untuk berjaga-jaga dan berdoa, supaya mereka jangan jatuh ke dalam pencobaan: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah!" (bdk Mat 6:41; Mrk 14:38; Luk 22:40,46) . Untuk mencegah kejatuhan tersebut. mereka perlu memohon kepada Allah: agar dikuatkan dalam pencobaan dan dilepaskan dari kejahatan (bdk Mat 6:13; Luk,11:4) . Allah, yang mengetahui kelemahan manusia, tidak akan membiarkan manusia 'dicobai melampaui kekuatannya. Pada waktu mamusia dicobai, Allah akan memberikan kepada manusia jalan keluar, sehingga manusia dapat menanggungnya (bdk 1 Kor 10:13).

(h) "Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-Iamanya. Amin."

Doksologi (seruan pujian) kepada Allah ini tidak terdapat dalarn manuskrip (naskah) tertua Injil Matius, dan sama sekali tidak terdapat dalam semua manuskrip Injil Lukas. Doksologi ini pertama kali terdapat dalam Didakhe atau Ajaran Keduabelas Rasul, yang juga berasal dari abad pertama Masehi, yakni sekitar tahun 50-70 Masehi. Dalam 'doksologi' versi Didakhe, tidak disebutkan "kerajaan", hanya "kuasa" dan "kemulia-an" (bdk Did 8:2). Kata "kerajaan" baru ditambahkan kemudian oleh Konstitusi Apostolik (bdk KA 7,24,1).
Menurut kebiasaan orang Yahudi, doa harus ditutup dengan suatu doksologi. Jadi dapat dipahami, jika doa "Bapa Kami" juga ditutup dengan suatu doksologi. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Allah memang sering dipuji sebagai yang empunya kerajaan (bdk. 1Taw 29:11; Mzm 22:29; Ob 21), kuasa (bdk Mzm 62:12; 68:35; Ayb 25:2) dan kemuliaan (bdkl Taw 29:12; Mzm 29:1; 96:7) untuk selama-lamanya. Jadi dengan mengucapkan doksologi tersebut, para murid menegaskan kembali harapannya agar kedaulatan Allah segera dipulihkan (bdkWhy 11:6; ,4:11; 5f~13) . Doksologi sesudah doa "Bapa 'Kami" ini senada dengan doksologi yang diucapkan Daud: "TerpujilahEngkau, ya Tuhan, Allahnya bapa kami Irael, dari selama-Iamanya sampai selama-lamanya. Ya Tuhan, punyamulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya Tuhan, punyamulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari padaMu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tanganMulah kekuatan dan kejayaan; dalam tanganMulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya" (bdk 1 Taw 29:10-12).



DOA "BAPA KAMI VERSI INJIL LUKAS

Doa "Bapa Kami" versi Injil Lukas terdapat dalam Luk 11:1-13, yang berisikan sejumlah ajaran mengenai doa. Pertama-tama, ditegaskan bahwa "Yesus sedang berdoa di salah satu tempat" (bdk ay 1a). Setelah selesai berdoa, salah seorang murid meminta kepadaNya, agar Yesus mengajar mereka berdoa, sama seperti Yohanes mengajar murid-muridnya (bdk ay 1b). Maka menanggapi permintaan tersebut, Yesus mengajarkan doa "Bapa Kami" kepada mereka (bdk ay 2-4). Selanjutnya Yesus mengutarakan suatu perumpamaan yang menasihatkan agar orang tidak jemu-jemu untuk berdoa, meskipun doanya tidak langsung dikabulkan (bdk ay 5-8). Sehubungan dengan itu, Yesus menganjurkan para muridNya untuk berusaha keras memperjuangkan pengabulan doa mereka (bdk ay 9-10). Sebab jika orang jahat saja tahu memberi pemberian yang baik kepada orang yang memintanya, apalagi Allah yang mahabaik (bdk ay 11-13).

Dibandingkan dengan doa "Bapa Kami" versi Injil Matius, doa "Bapa Kami" versi Injil Lukas lebih pendek sedikit. Jika doa "Bapa Kami" versi Injil Matius terdiri dari 6 (enam) permohonan, maka doa " Bapa Kami" versi Injil Lukas hanya terdiri dari 5 ( lima ) permohonan. Selain itu, ada juga sejumlah perbedaan dalam hal penggunaan kata dan perumusan kalimat. Dalam bahasa Indonesia , doa "Bapa Kami" versi Injil Lukas berbunyi sebagai berikut:

"Bapa,
dikuduskanlah namaMu;
datanglah kerajaanMu.
Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya;
dan ampunilan kami akan dosa kami,
sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

Supaya dapat dipahami dengan baik, doa "Bapa Kami" versi Injil Lukas ini perlu dijelaskan sedikit. Penjelasan akan dipusatkan pada penggunaan kata dan perumusan kalimat yang berbeda dengan versi Injil Matius. Dalam hal ini, rujukan ke bahasa asli Injil (Yunani) dapat sangat membantu pemahaman.

(a) "Bapa"

Berbeda dengan doa "Bapa Kami" versi Injil Matius yang menyapa Allah dengan kata-kata "Bapa kami yang di surga" (bdk Mat 6:9), doa "Bapa Kami" versi Injil Lukas menyapa Allah hanya dengan kata "Bapa" saja, tanpa keterangan lebih lanjut (bdk Luk 11:2). Dalam keempat Injil, khususnya Injil Yohanes, Yesus memang banyak kali menyebut Allah sebagai "Bapa", sehingga kata "Bapa" sudah menjadi kata ganti untuk "Allah" (bdk Mat 11:25-27; 24:36; 28:19; Mrk 13:32; 14:36; Luk 10:21-22; 23:34.46; Yoh 3:35; 4:23; 5:19-23; 6:65; 10:15.30; 12:26-28.49; 14:6.9-13; 15:16; 16:3.23.32; 20:17.21). Karena sebutan "Bapa" sudah jelas merujuk kepada Allah (bdk Yoh 20:17), maka keterangan lebih lanjut tidak diperlukan lagi. Keterangan "yang di surga"hanya dibutuhkan, sejauh ingin dibedakan dengan bapa-bapa "yang di bumi" (bdk Mat 23:9), seperti Abraham dan sebagainya (bdk Mat 3:9; Luk 3:8). Jadi jika para murid berdoa, cukup menyapa Allah dengan kata "Bapa" saja (bdk Luk 11:2). Sebab sebagai "anak- anak Allah" (bdk Rom 8:16), mereka sudah boleh berseru seperti Yesus: "ya Abba, ya Bapa" (bdk Mrk 14:36; Rom 8 :15; Gal 4:6).

(b) "Dikuduskanlah namaMu; datanglah kerajaanMu"

Dalam doa "Bapa Kami" versi Injil Matius, permohonan demi kepentingan Allah ada 3 (tiga), yaitu agar namaNya dikuduskan, kerajaanNya datang dan kehendakNya terjadi (bdk Mat 6:9-10). Sedangkan dalam doa "Bapa Kami" versi Injil Lukas, permohonan demi kepentingan Allah hanya 2 (dua) saja, yakni supaya namaNya dikuduskan dan kerajaanNya datang (bdk Luk 11:2). Kedua permohonan demi kepentingan Allah tersebut meniru doa "Kaddish" (Kudus), yang biasa didoakan pada akhir ibadat di sinagoga (rumah ibadat orang Yahudi): "Dimuliakan dan dikuduskanlah namaNya yang agung di dunia yang Ia ciptakan menurut kehendakNya. Semaga Ia membiarkan kerajaanNya memerintah seumur hidupmu dan sepanjang harimu, serta seumur hidup segenap keluarga Israel , dengan cepat dan segera. Amin. Doa "Kaddish" ini. mendambakan pemulihan kembali kekudusan nama Allah dan kedaulatan kerajaanNya, seperti dinubuatkan oleh nabi Yehezkiel (bdk Yeh 36:23-24). Dengan menguduskan namaNya di atas bumi, Allah menegakkan kembali kedaulatan kerajaanNya atas segala bangsa, sehingga mereka semua akan hidup menurut kehendakNya (bdk Yeh 36:25-28).

(c) "Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya"

Dibandingkan dengan permohonan makanan versi Injil Matius, permohonan makanan versi Injil Lukas ini memiliki keistimewaan. Jika menurut versi Injil Matius, makanan dimohonkan "pada hari ini" (bdk Mat 6:11); maka menurut versi Injil Lukas, makanan dimohonkan "setiap hari" (bdk Luk 11:3) . Injil Matius menggunakan ungkapan Yunani " dos hemin semeron ", yang berarti "berilah. kami pada hari ini" (Inggris: "give us this day"). Sedangkan Injil Lukas menggunakan ungkapan Yunani " didou hemin to kath hemeran ", yang berarti "terus berilah kami setiap hari" (Inggris: "keep on giving us each day"). Jadi Injil Matius menekankan "pemenuhan kebutuhan sehari saja", sementara Injil Lukas menekankan "pemenuhan kebutuhan setiap hari", Penekanan Injil Matius atas "pemenuhan kebutuhan sehari" sesuai dengan nasihat yang diberikan oleh Yesus, yaitu: "Janganlan kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari" (bdk Mat 6:34). Nasihat Yesus tersebut tidak terdapat dalam Injil Lukas yang menekankan "pemenuhan kebutuhan setiap hari" (bdk Luk 12:22-31).

(d) "Ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami"

Permohonan pengampunan versi Injil Lukas ini juga berbeda dengan permohonan pengampunan versi Injil Matius. Pertama, menurut versi Injil Lukas, pengampunan dirnohonkan atas "dosa" (bdk Luk 11:4); sedangkan rnenurut versi Injil Matius, pengarnpunan dimohonkan atas "kesalahan" (bdk Mat 6:12). Versi Injil Lukas memakai kata Yunani " tas hamartias hemon " yang berarti "dosa kami", sementara versi Injil Matius memakai kata Yunani " ta opheilemata hemon " yang berarti "kesalahan kami", Kedua, menurut versi Injil Lukas, alasan permohonan pengampunan ialah "sebab 'kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepadakami" (bdk Luk 11:4); sedangkan rnenurut versi Injil Matius, dasar permohonan pengampunan adalah "seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami" (bdk Mat 6:12). Versi Injil Lukas rnenggunakan ungkapan Yunani " kai gar autoi aphiomen panti opheilonti hemin ", yang dalarn bahasa Inggris berarti "for we ourselves forgive every one who is indebted to us"; sementara versi Injil Matius menggunakan ungkapan Yunani " hos kai heme is aphekamen tois opheiletais hemon ", yang dalarn bahasa Inggris berarti "as we also have forgiven our debtors". Jadi berbeda dengan versi Injil Matius yang menekankan tindakan pengampunan sesaat (kata kerja memakai waktu lampau) untuk "orang tertentu", versi Injil Lukas menekankan sikap pengampunan rutin (kata kerja rnemakai waktu sekarang!) bagi "semua orang".



(e) "Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan"

Permohonan terakhir ini sarna persis untuk kedua versi doa "Bapa Kami" yang terdapat dalam Injil. Baik versi Injil Matius rnaupun versi Injil Lukas, sama-sama menggunakan ungkapan Yunani " kai me eisenegkes hemas eis peirasmon " yang berarti "janganlah membawa kami ke dalam pencobaan" (bdk Mat 6:13; Luk 11:4) . Satu- satunya perbedaan ialah dalam versi Injil Matius, ada tambahan kalimat "tetapi lepaskanlan kami dari pada yang jahat", yang dalam bahasa Yunani berbunyi " alla rusai hemas apo tou ponerou ". Permohonan agar tidak dibawa ke dalam pencobaan ini sangat senada dengan doa malam orang Yahudi, yakni: "janganlah mengantar kakiku ke dalam kekuasaan dosa, dan janganlah membawa saya ke dalam kekuasaan ketidakadilan, ke dalam kekuasaan pencobaan, dan ke dalam kekuasaan apa saja yang memalukan" Dengan doa malam ini, orang Yahudi memohon pedindungan dari segala jenis kejahatan, agar mereka tidak dikuasai oleh kejahatan tersebut. jadi permohonan "janganlah membawa kami ke dalam pencobaan" tidak meminta supaya dihindarkan dari pencobaan, tetapi supaya dilindungi dalam pencobaan , (bdk Mat 26:41; Mrk 14:38; Luk 22:40.46).



DOA "BAPA KAMI" VERSI GEREJA KATOLIK

Doa "Bapa Kami" versi Gereja Katolik terdapat dalam buku-buku doa resmi, seperti Breviarium Romanum, Orate, Adoro Te, Doa-Doa Harian, Madah Bakti, Puji Syukur dan sebagainya. Dalam bahasa Latin, doa "Bapa Kami" versi Gereja Katolik itu berbunyi
demikian:

Pater noster, qui es in caelis,
sanctificetur nomen tuum.
Adoeniai regnum tuum.
Fiat oolunias tua,
sicut in caelo et in terra.
Panem nostrum quotidianum da nobis h6die.
Et dimitte nobis debita nostra,
sicut et nos dimittimus debit6ribus nostris.
Et ne nos inducas in tentati6nem:
sed li bera nos a malo.
Amen.

Doa "Bapa Kami" dalam bahasa Latin tersebut berasal dari Kitab Suci Vulgata (Terjemahan Latin),karya Santo Hironimus (347-420 M). Dalam bahasa Indonesia , doa "Bapa Kami" tersebut diterjemahkan sebagai berikut:

Bapa kami yang ada di surga,
dimuliakanlah namaMu.
Datanglah kerajaanMu.
Jadilali kehendakMu,
di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rezeki pada hari ini.
Dan ampuniIah kesalahan kami,
seperti kami pun mengampuni Yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan:
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Amin.

Agar doa "Bapa Kami" versi Gereja Katolik ini dapat dipahami dengan baik, berikut ini akan dijelaskan makna dari setiap kalimat. Secara khusus penjelasan akan difokuskan pada perbedaan kalimat doa "Bapa Kami" versi Gereja Katolik dan doa "Bapa Kami" versi Injil. Dalam hal ini, pengetahuan bahasa Yunani dan Latin dapat sangat membantu pemahaman.

(a) "Bapa kami yang ada di surga"

Sapaan "Bapa kami yang ada di surga" merupakan terjemahan Indonesia dari sapaan Latin "Pater noster qui es in caelis". Dalam bahasa Yunani , sapaan tersebut berbunyi " Pater hemon ho (ei) en tois ouranois ", yang berarti "Bapa kami yang (ada) di Surga", tanpa kata "ei" atau "ada". Jika sapaan Indonesia memakai kata "ada" (mengikuti sapaan Latin yang memakai kata "es"), sapaan Yunani tidak memakai kata "ei", Jadi satu-satunya perbedaan terdapat pada kata "ada" atau "es" atau "ei" tersebut.

(b) "Dimuliakanlah namamu"

Permohonan "Dimuliakanlah namaMu" merupakan terjemahan Indonesia ' dari permohonan Latin "Sanctijicetur nomen tuum ", Dalam bahasa Yunani , permohonan tersebut berbunyi ." Hagiastheto to onoma sou ", yang berarti "Dikuduskanlan namaMu". Baik kata Latin "eanciificetur" maupun kata Yunani "hagiastheto" pertama-tama berarti "dikuduskanlah", Meskipun demikian, terjemahan "dimuliakanlah" atau "dihormatilah" juga dapat dipakai dalam konteks pengudusan nama Allah.

(c) "Datanglah kerajaanMu"

Permohonan "Datanglah kerajaanMu" merupakan terjemahan Indonesia dari permohonan Latin "Adveniat regnum tuum". Dalam bahasa Yunani , permohonan tersebut berbunyi " Eliheio he basileiasou ", yang berarti "Datanglah kerajaanMu". Jadi mengenai permohonan
ini, sama sekali tidak ada perbedaan makna di antara ungkapan Indonesia , ungkapan Latin dan ungkapan Yunani.

(d) "Jadilah kehendakMu.

Di atas bumi seperti di dalam surga" Permohonan "Jadilah kehendakMu, di atas bumi
seperti di dalam surga" merupakan terjemahan Indonesia dari permohonan Latin "Fiat voluntas tua, sicut in caelo et in terra", yang secara harafiah berarti "Jadilah kehendakMu, seperti di dalam surga juga di atas bumi", Dalam bahasa Yunani , permohonan tersebut berbunyi " Genetheio to thelema sou, hos en ourano kai epi ges ", yang secara harafiah berarti pula "Jadilan kehendakMu, seperti di dalam surga juga di atas bumi", jadi terjemahan Indonesia ini hanya merubah urutan kata dengan menyebutkan bumi lebih dahulu, baru kemudian surga, Meskipun demikian, maknanya tetap sama.

(e) "Berilah kami rezeki pada hari ini"

Permohonan "Berilan kami rezeki pada hari ini" merupakan terjemahan Indonesia dari permohonan Latin "Panem nostrum quotidianum da nobis hodie", yang secara harafiah berarti "Roti kami sehari-hari berilah kami hari ini", Dalam bahasa Yunani , permohonan tersebut berbunyi " Ton arton hemon ton epiousion dos hemin semeron ", yang secara harafiah juga berarti "Roti kami sehari-hari berilah kami hari ini", Jadi terjemahan "Berilah kami rezeki pada hari ini" menempatkan predikat terlebih dahulu, baru kemudian obyek. Selain itu terjemahan ini mengganti kata "roti sehari-hari" dengan kata Arab "rezeki", yang berarti "makanan sehari-hari " , Dengan pergantian kata ini, isi permohonan menjadi lebih terbuka. Tidak hanya terbatas pada "roti" yang menjadi makanan pokok orang Yahudi, tetapi juga "makanan" lain, sesuai dengan adat istiadat masing-masing orang.

(f) "Ampunilah kesalahan kami,

seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami" Permohonan "Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami" merupakan terjemahan Indonesia dari permohonan Latin "Dimiiie nobis debita nostra, sicut et nos dimittimus debitoribus nostris", yang secara harafiah berarti "Hapuskanlali bagi kami utang kami, seperti juga kami menghapuskan bagi mereka yang berhutang kepada kami", Dalam bahasa Yunani , permohonan tersebut berbunyi " Aphes hemin ta opheilemata hemon, hos kai heme is aphekamen to is opheiletais hemon ", yang secara harafiah berarti "Hapuskanlali bagi kami utang kami, seperti juga kami telah menghapuskan bagi pengutang-pengutang kami". Jadi terjemahan Indonesia "Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami" sudah merupakan suatu terjemahan bebas, berdasarkan pengertian bahasa Aram , yang menyamakan "utang' dengan "dosa" atau "kesalahan",

(g) "Janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat"

Permohonan "Janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat" merupakan terjemahan Indonesia dari permohonan Latin "Ne nos inducas in tentationem, sed libera nos a malo", yang secara harafiah berarti "Janganlah kami Kaubawa ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari keiahatan", Dalam bahasa Yunani ,permohonan tersebut berbunyi " Me eisenegkes hemas eis peirasmon, alla rusai hemas apo tou ponerou ". yang secara harafiah berarti "Janganlah Kaubawa kami ke dalam pencobaan, tetapi selamatkanlah kami dari kejahatan". Jadi terjemahan "Janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat" sudah merupakan suatu terjemahan bebas berdasarkan konteks, namun tidak merubah isi dari permohonan.

Menurut informasi dari Didakhe (Ajaran Kedua belas Rasul), sejak abad pertama doa "Bapa Kami" sudah dianggap sebagai doa khusus bagi orang yang sudah menjadi anggota penuh Gereja. Orang yang belum dibaptis tidak diizinkan untuk mendoakan doa "Bapa Kami". Mereka baru pertama kali diperbolehkan mendoakan doa tersebut sesudah mereka menerima.

Sakramen Pembaptisan, yakni pada saat mereka hendak menerima Komuni Pertama. Sebab itu dalam masa katekumenat (persiapan pembaptisan), para calon baptis diwajibkan untuk menghafal doa "Bapa Kami", supaya pada waktu pembaptisan mereka sudah dapat mendoakan doa tersebut. Dengan menerima Sakramen Pernbaptisan dan Komuni Pertama, mereka sudah menjadi anggota penuh Gereja, sehingga boleh mendoakan doa "Bapa Kami" setiap hari. Karena terbatas hanya untuk anggota penuh Gereja, doa "Bapa Kami" lalu disebut "doa orang beriman".Betapa tinggi penghargaan dan penghormatan Gereja terhadap doa "Bapa Kami" ini, tercermin dalam ajakan untuk mendoakan doa tersebut: "Atas petunjuk
Penyelamat kita, dan menurut ajaran ilahi, maka beranilah kita berdoa: ... " (bdk TPE).

Sebagai manusia biasa, kita sesungguhnya tidak layak untuk mendoakan doa agung ini. Tetapi karena diajarkan oleh Yesus Kristus sendiri, maka kita memberanikan diri untuk mendoakannya. Menurut Rasul Paulus, sebagai manusia lemah yang penuh dosa, kita sarna sekali tidak tahu bagaimana sebenamya kita harus berdoa (bdk Rom 8:26). Syukur kepada Allah, bahwa melalui Yesus Kristus, Roh Kudus telah menjadikan kita anak-anak Allah, sehingga kita boleh berseru: "Ya Abba, ya Bapa!" (bdk Rom 8:15; Gal 4:6).

Karena terlalu sering didoakan "di luar kepala", keagungan dan keindahan doa "Bapa Kami" mungkin sudah "dilupakan" oleh sebagian besar anggota Gereja. Memang doa "Bapa Kami" masih suka diucapkan "dengan bibir", tetapi tidak dihayati lagi "di dalam haii" (bdk Yes 29:13; Mat 15:8; Mrk 7:6). Dengan demikian, doa "Bapa Kami" yang sangat agung dan indah ini menjadi tak bermakna sarna sekali (bdk Yes 1:15). Pendalaman doa "Bapa Kami" ini bertujuan untuk menyadarkan kembali mereka yang sudah melupakan keagungan dan keindahan doa "Bapa Kami". Dengan membaca buku kecil ini, para pembaca diharapkan dapat menyelami makna setiap permohonan dalam doa "Bapa Kami", sehingga kemudian dapat mendoakannya dengan penuh penghayatan iman. Sebab doa yang baik adalah doa yang diucapkan bukan hanya dengan "bahasa roh", tetapi juga dengan "akal budi" (bdk 1 Kor 14:15). Dan doa yang lahir dari iman dan dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya (bdk Yak 5:15-16). Jika demikian, mengapa doa "Bapa Kami" yang diajarkan sendiri oleh Sang Juruselamat disia-siakan? Adakah doa yang lebih agung dan indah daripada doa "Bapa Kami"?!
Read On 0 comments

Doa Bapa Kami

2:58 PM
Doa Bapa Kami
[Puji Syukur no 10]

[Puji Syukur no 11]

[Puji Syukur no 12]
Bapa kami yang ada di surga,
Dimuliakanlah nama-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu.
Jadilah kehendak-Mu
di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rezeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami,
seperti kamu pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami
ke dalam pencobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.


(Sebab Engkaulah raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya. Amin).
Bapa Kami yang di surga,
dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu
di bumi seperti di surga.
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang
yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.


(Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.Amin.)
Bapa, dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu.
Berilah kami setiap hari
makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan dosa kami,
sebab kami pun mengampuni setiap orang
yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami
ke dalam pencobaan. (Amin.)
Misale Romanum.((Mat 6:9-13))

Injil ((Mat 6:9-13))

Injil ((Luk 11:2-4))
Read On 0 comments

Tanda Salib

2:56 PM
Tanda Salib
[Puji Syukur no 9]

>Dalam (demi) nama
>Bapa
>Putra
>dan Roh Kudus
>Amin


* Bagaimana kita membuat tanda salib?

Membubuhkan Tanda Salib di kening, dada dan pundak kita dengan menggunakan jari tangankita, dengan demikian kita diberkati dalam pikiran, hati dan keberadaan diri kita sepenuhnya

* Apa makna membuat tanda salib bagi diri kita?

Dengan tanda Salib kita mengingat kembali secara istimewa hidup, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus

* Arti masing-masing dari tiga tanda salib sebelum bacaan Injil dibacakan?

Pertama kita membuat tanda salib tersebut di dahi. Tanda ini memiliki arti, "Dalam pikiranku, saya percaya". Anda meminta bantuan roh kudus agar Anda bisa percaya pada sabda Tuhan, dalam pikiran Anda.

Kedua kita membuat tanda salib di mulut. Tanda ini memiliki arti, "Melalui mulutku saya mewartakan". Anda setuju untuk mewartakan sabda Tuhan yang anda percayai dalam pikiran Anda ke semua orang.

Ketiga kita membuat tanda salib di dada. Tanda yang ini memiliki arti, "Dalam hatiku, saya simpan sabda Tuhan". Anda sudah percaya pada sabda Tuhan, dan anda juga sudah setuju untuk mewartakannya ke semua orang agar mendapat keselamatan. Namun Anda harus juga menyimpan sabda Tuhan itu dalam hati Anda, agar Andapun beroleh berkat-Nya

Dengan tanda salib tubuh kita telah dimeterai dan disucikan oleh Allah. Dalam segala kegiatan kita: dari kita bangung tidur, sebelum tidur, kita belajar, kita bekerja, kita melakukan pelayanan, kita makan, kita susah, kita senang, kita tertawa, kita menangis. Jika kita membuat tanda salib itu berarti kita mengundang Allah Tri Tunggal untuk menjaga, melindungi kita sehingga kita tidak melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Bapa. Tanda salib juga merupakan tanda persatuan kita dengan sesama umat Katolik, misalnya jika kita makan di rumah makan, kemudian melihat ada orang membuat tanda salib, kita pasti bilang : Oh, orang itu orang Katolik, dia saudara saya yang seiman
Read On 0 comments

Memahami Allah Tritunggal

2:53 PM
MEMAHAMI ALLAH TRITUNGGAL

Allah Tritunggal atau Trinitas merupakan doktrin yang sukar dan membingungkan kita. Kadang-kdang orang Kristen dituduh mengajarkan pemikiran yang tidak masuk akal (logika), yaitu 1+1+1=1. ini merupakan pernyataan yang salah. Mengapa tidak memakai formula 1x1x1=1 atau 1:1:1=1? Istilah Trinitas bukan menjelaskan relasi dari Tiga Allah (ini yang sering dikatakan oleh sekte Unitarian kepada Orang Kristen). Tritunggal bukan berarti triteisme, yaitu di mana ada tiga keberadaan yang tiga-tiganya adalah Allah. Kata Trinitas dipergunakan sebagai usaha untuk menjelaskan kepenuhan dari Allah, baik dalam hal keesaan-Nya maupun dalam hal keragaman-Nya.


Formulasi Trinitas yang telah dikemukakan dalam sejarah adalah Allah itu satu esensi dan tiga Pribadi. Formula ini memang merupakan suatu hal yang misteri dan paradoks tetapi tidak kontradiksi. Keesaan dari Allah dinyatakan sebagai esensi-Nya atau keberadaan-Nya, sedangkan keragaman-Nya diekspresikan dalam Tiga Pribadi. Istilah Trinitas sendiri tidak terdapat dalam Alkitab, namun konsepnya dengan jelas diajarkan oleh Alkitab. Di satu sisi, Alkitab dengan tegas menyatakan keesaan Allah (Ulangan 6:4) dan (ihat juga 1Kor 8:4,6; 1Tim 2:5-6, Yak2:19) Di sisi lain, Alkitab dengan tegas menyatakan keilahian tiga pribadi dari Allah: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Gereja telah menolak ajaran-ajaran bidat modalisme dan triteisme. Modalisme adalah ajaran yang menyangkali perbedaan Pribadi-Pribadi yang ada di dalam keesaan Allah, dan menyatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus hanyalah merupakan tiga cara Allah di dalam mengkspresikan diri-Nya. Di pihak lain, Triteisme mengungkapkan pernyataan yang salah, yaitu ada tiga keberadaan yang menjadi Allah.

Istilah Pribadi sama sekali tidak berarti adanya perbedaan di dalam esensi, tetapi perbedaan di dalam subtansi dari Allah. Substansi-substansi pada diri Allah memiliki perbedaan yang nyata satu dengan yang lain tetapi tidak berbeda secara esensi, dalam arti suatu keberadaan yang berbeda satu dengan yang lain.setiap Pribadi berada ”di bawah” esensi Allah yang murni. Perbedaan substansi ini berada dalam wilayah keberadaan, bukan suatu merupakan suatu keberadaan atau esensi yang terpisah. Semua pribadi pada diri Allah memiliki atribut ilahi.

Setiap Pribadi di dalam Trinitas memiliki peran yang berbeda. Karya keselamatan dalam pengertian tertentu merupakan pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Namun, di dalam pelaksanaannya ada peran yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bapa memprakarsai penciptaan dan penebusan; Anak menebus ciptaan; dan Roh Kudus melahirbarukan dan menguduskan, dalam rangka mengaplikasikan penebusan kepada orang-orang percaya.

Keilahian Bapa:

* Mat 6:26 bdk Mat 30,32, Yoh.1:18, 6:46, Ro 1:7



Keilahian Yesus Kristus:

* Pengakuan Tomas: Yoh 20:28.
* Kesaksian Paulus: Flp 2:5-11.
* Ibr 1:2,8.
* malaikat Allah adalah malaikat-Nya: Luk.12:8-9; 15:10, Mat13:41.
* kerajaan Allah dan orang-orang pilihan Allah adalah milik-Nya: Mat 12:28, 19:14, 24, 21:31,43, Mrk13:20.
* mengampuni dosa: Mrk 2:8-10.
* wewenang untuk menghakimi dunia: Mat.25:31.
* berkuasa atas dunia: Mat 24:30, Mrk 14:62.



Keilahian Roh Kudus:

* berdusta kepada Roh Kudus = berdusta kepada Allah ( bdk. 1 Kor.6:19-20).
* Roh Kudus digambarkan sebagai memiliki sifat dan melakukan pekerjaan Allah (Yoh.16:8-11, 3:18).
* Roh Kudus dinyatakan sederajat dengan Allah(Mat 28:19; 2Kor 13:14, 1Pet 1:2).

Doktrin Tritunggal tidak menunjukkan bagian-bagian atau peran-peran dari Allah. Analogi manusia yang menjelaskan seseorang yang adalah seorang ayah, seorang anak, dan seorang suami tidak dapat mewakili misteri dari natur Allah.

Doktrin Tritunggal tidak secara lengkap menjelaskan tentang karakter Allah yang bersifat misteri. Sebaliknya, doktrin ini memberikan perbatasan yang tidak boleh kita langkahi. Doktrin ini menjelaskan batas pemikiran kita yang terbatas. Doktrin Tritunggal menuntut kita untuk setia pada wahyu ilahi yang menyatakan bahwa dalam satu pengertian Allah adalah esa dan dalam pengertian lain Dia dalah tiga.

*
Doktrin Tritunggal meneguhkan kesatuan Allah di dalam tiga pribadi
*
Doktrin Tritunggal bukan merupakan suatu kontradiksi; Allah memiliki satu esensi dan tiga pribadi.
*
Alkitab meneguhkan baik keesaan Allah dan keilahian dari Bapa, Anak dan Roh Kudus.
*
Ketiga pribadi di dalam Tritunggal dibedakan melalui karya yang dilakukan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus.
*
Doktrin Tritunggal memberikan batasan kepada spekulasi manusia tentang natur Allah.
Read On 0 comments

Sejarah Gereja Katolik

1:48 PM
Sejarah GEREJA KATOLIK

Sejarah Gereja Katolik meliputi rentang waktu selama hampir dua ribu tahun. Sejarah Gereja Katolik merupakan bagian integral Sejarah kekristenan secara keseluruhan. Istilah Gereja Katolik yang digunakan secara khusus untuk menyebut Gereja yang didirikan di Yerusalem oleh Yesus dari Nazaret (sekitar tahun 33 Masehi) dan dipimpin oleh suatu suksesi apostolik yang berkesinambungan melalui Santo Petrus Rasul Kristus, dikepalai oleh Uskup Roma sebagai pengganti St. Petrus, yang kini umum dikenal dengan sebutan Paus.

"Gereja Katolik" diketahui pertama kali digunakan dalam surat dari Ignatius dari Antiokhia pada tahun 107, yang menulis bahwa: "Di mana ada uskup, hendaknya umat hadir di situ, sama seperti di mana ada Yesus Kristus, Gereja Katolik hadir di situ."

Di pusat doktrin-doktrin Gereja Katolik ada Suksesi Apostolik, yakni keyakinan bahwa para uskup adalah para penerus spiritual dari keduabelas rasul mula-mula, melalui rantai konsekrasi yang tak terputus secara historis. Perjanjian Baru berisi peringatan-peringatan terhadap ajaran-ajaran yang sekedar bertopengkan Kekristenan, dan menunjukkan bahwa para pimpinan Gereja diberi kehormatan untuk memutuskan manakah yang merupakan ajaran yang benar. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Gereja Katolik adalah keberlanjutan dari orang-orang tetap setia pada kepemimpinan apostolik (rasuli) dan episkopal (Keuskupan) serta menolak ajaran-ajaran palsu.
Read On 0 comments

Dasar Iman Katolik

1:04 PM
DASAR IMAN KATOLIK

Hampir semua denominasi Protestan mengatakan Hanya Alkitab sumber Iman Kristiani (Sola Scriptura) tetapi tidak untuk gereja Katolik. Lalu apakah dengan ini gereja Katolik tidak menghargai kitab suci? oh tentu tidak sebab alkitab sendiri ditetapkan oleh gereja Katolik maka adalah aneh jika justru Katolik tidak menghargai kitab suci (untuk lebih jelasnya baca Sejarah Alkitab). Gereja Katolik menerima Kitab suci sebagai dasar iman tetapi bukan satu-satunya dasar iman. mengapa? sebab masih ada 2 hal yang lain yaitu:

1. Hak Mengajar Gereja (Magisterium).
Mengapa Gereja memiliki wewenang mengajar? sebab Gereja adalah Pondasi kebenaran "...jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran" (1 tim 3:15) dan juga karena Yesus sendiri memberikan wewenang itu kepada Petrus secara pribadi (Mat 16:18-19)(untuk lebih jelasnya lihat tentang kePausan) dan kepada Para Rasul yang lain (Mat 18:18; Lk 10:16) atas dasar inilah maka jemaatawal taat pada pengajaran para rasul (Kis 2:42). lalu apakah hak mengajar ini hanya untuk para rasul atau diwariskan kepada para penggantinya? tentu saja hak mengajar ini diwariskan sebab Yesus menjanjikan Gereja-Nya akan bertahan sampai sepanjang masa (Matius 28:20), kita tahu para rasul tidak akan bertahan sepanjang masa karena mereka adalah manusia tentu secara akal sehat pastilah wewenang itu diwariskan supaya gereja dengan pola yang sama seperti dahulu (Apostolik) tetap bertahan sepanjang masa.
2. Tradisi Suci.
Tradisi Suci adalah ajaran yang tidak tertulis seperti yang diungkapkan dalam:
1.
Kis 2:42 di mana dikatakan bahwa jemaat kristen perdana bertekun dalam pengajaran para rasul, jauh sebelum tulisan-tulisan Perjanjian Baru sendiri lahir. Jadi kehidupan iman Gereja tidak terbatas pada buku saja,tetapi juga pada ajaran lisan para pemimpin suci yang ditetapkan oleh Tuhan.
2.
1Kor 15:3 di mana dikatakan oleh Paulus bahwa kebenaran tentang Yesus Kristus dia terima sendiri (jelas secara lisan)
3.
2Tes 2:15 dimana Paulus menasehati umatnya: "Berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik itu secara lisan maupun secara tertulis." Ajaran-ajaran yang tidak tertulis semacam itulah yang kita sebut Tradisi.
4.
Yoh 21:25 yang berbunyi: "Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat Yesus, tetapi jikalau sernuanya itu harus dituliskan satu per satu. maka agaknya dunia ini tidak memuat semua kitab yang harus ditulis itu." Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan penulisan injilnya bukanlah untuk mendaftar semua ajaran kristen atau membuat daftar lengkap dari ucapan dan perbuatan Yesus. Yang dia tulis hanyalah hal-hal yang paling mendasar untuk keselamatan manusia. Hal yang sama kiranya berlaku untuk kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya.
5.
"Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang." (Yoh 16:12-13) Bagaimana Roh Kudus akan membimbing kepada keseluruhan kebenaran jika karyanya dibatasi oleh Tradisi yang sudah dibukukan dalam alkitab

apakah Tradisi ini terjamin kebenarannya karena tidak tertulis?. Tradisi terjamin kebenarannya karena dipelihara oleh Gereja yang adalah tiang Pondasi kebenaran "...jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran" (1 tim 3:15). Contoh Tradisi Suci adalah masalah Maria diangkat ke Surga ini sebenarnya dalah Tradisi Apostolik karena paham ini berkembang sejak jaman dahulu ketika masih dekat dengan masa Para Rasul seperti yang diungkapkan oleh: St. Gregory (594 AD), bishop of Tours, declared that "the Lord . . . commanded the body of Mary be taken in a cloud into paradise; where now, rejoined to the soul, Mary reposes with the chosen ones." St. Germaine I (+732 AD), Patriarch of Constantinople, speaks thusly to Mary, "Thou art . . . the dwelling place of God . . . exempt from all dissolution into dust." And St. John Damascene asserted, "He who had been pleased to become incarnate (of) her . . . was pleased . . . to honor her immaculate and undefiled body with incorruption . . . prior to the common and universal resurrection.".............. hingga akhirnya paham ini dijadikan dogma secara resmi tahun 1 November 1950 oleh Paus Pius XII dan paham ini juga dapat digali dalam alkitab (lihat pada Maria sebagai Tabut perjanjian, Maria dikandung tanpa Noda dosa & Maria diangkat ke Surga) dari contoh jelas Alkitab dan Tradisi saling menunjang bahkan sebenarnya Alkitab adalah Tradisi yang Tertulis seperti yang diungkapkan dalam Lukas 1:1-4 yang bila kita baca prolog injil tsb maka alurnya akan tampak seperti ini: pada mulanya adalah ajaran lisan yang disampaikan orang-orang yang merupakan saksi mata apa yang diperbuat Yesus dan "Pelayan Firman" lalu Penulis injil lukas membukukan semuanya setelah diselidiki kebenarannya supaya memperkuat keyakinan bahwa apa yang sudah diterima (secara Lisan) adalah benar adanya.
(uraian sekilas tentang Tradisi Suci, lihat artikel singkat tentang Tradisi Suci)

Dari uraian mengenai Tradisi - Kitab Suci - Magisterium jelaslah bahwa Dari uraian di atas nampak betapa eratnya hubungan Tradisi dan Alkitab. Oleh karena itu Alkitab harus ditafsirkan dalam konteks dan dalam kesatuan dengan Tradisi. Sulit membayangkan penafsiran Alkitab lepas dari Tradisi, sebab sebelum Alkitab ditulis, Sabda Allah itu sudah lebih dahulu dihayati dalam Tradisi. Sebaliknya, karena penulisan Alkitab itu ada di bawah pengaruh Roh Kudus sendiri, maka Tradisi yang dihayati Gereja di segala jaman itu harus dikontrol dalam terang Alkitab. dan dalam menafsirkan Tradisi & Alkitab Gereja Yesus Kristuslah yang mendapat wewenang untuk mengajar dan wewenang untuk mengajar soal-soal iman dan susila ada di tangan para uskup sebagai pewaris sah para rasul dengan Paus sebagai pemimpin, yakni pengganti Petrus. mengapa? sebab dalam 2Pet 3:15-16 diingatkan bahwa Alkitab sangat sulit untuk dimengerti sehingga butuh wewenang khusus untuk menafsirkannya dan wewenang itu ada ditangan Gereja yang sudah diberi wewenang oleh Yesus sendiri.
Read On 1 comments

Menjadi Katolik

12:52 PM
Menjadi Katolik
Allah dalam Dirinya sendiri sempurna dan bahagia tanpa batas. Berdasarkan keputusan-Nya yang dibuat karena kebaikan semata-mata, Ia telah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, supaya manusia itu dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang bahagia. Karena itu, pada setiap saat dan di mana-mana Ia dekat dengan manusia. Ia memanggil manusia dan menolongnya untuk

mencari-Nya, untuk mengenal-Nya, dan untuk mencintai - Nya dengan segala kekuatannya. Ia memanggil semua manusia yang sudah tercerai-berai satu dari yang lain oleh dosa ke dalam kesatuan keluarga-Nya, Gereja. Ia melakukan seluruh usaha itu dengan perantaraan Putera-Nya, yang telah Ia utus sebagai Penebus dan
Juru Selamat, ketika genap waktunya. Dalam Dia dan oleh Dia Allah memanggil manusia supaya menjadi anak-anak-Nya dalam Roh Kudus, dan dengan demikian mewarisi kehidupan-Nya yang bahagia. (KGK 1)

Melalui kehendak bebas yang diberikan oleh Allah pada manusia, manusia bebas bersikap menggunakannya untuk menentukan pilihannya dalam menolah dunia dan seisinya serta terutama dalam menjalin Relasi dengan Allah.

Kehendeak bebas atau kebebasan sikap diartikan sebagai sikap bebas tanpa paksaan atau dipaksa oleh pihak lain, dalam menentukan pilihan yang terbaik berdasarkan suara hatinya. Suara hati diyakini sebagai suara Allah, yang sedang berbicara dan mengarahkan orang pada kebaikan dan kebenaran dan juga mampu membedakan yang baik dan yang jahat. Suara hati sangat berperan dalam menentukan jati diri seseorang, sejauh orang tersebut mau dan mampu mendengarkan sura hatinya. Maka berdasarkan suara hati setiap orang BEBAS memlilih yang paling baik dan benar bagi diri dan kehidupannya, termasuk dalam memlih agama atau kepercayaan yang dianutnya. Sehingga Jelas bahwa agama dan kepercayaan yang dianut dan dihayati ini sungguh-sungguh pilihannya sendiri, bukan karena terpaksa terlebih-lebih dipaksa oleh orang lain.

Setiap orang yang di sapa oleh Allah menanggapinya dengan iman, yang terungkap lewat agama dan kepercayaan. Demikan halnya dengan orang beriman Katolik, mempunyai iman kepada Yesus Kristus, melalui agama katolik. Maka dengan menyebutnya beriman katolik berarti orang itu percaya dan beriman seutuhnya kepada Yesus Kristus, sebab Dialah yang menjadi "Jalan, Kebenaran dan Hidup" (Yoh 14:6).



Bagaimana menjadi, beriman Katolik serta beragama Katolik?

kita kembali kepada Kehendak bebas yang Allah berikan kepada setiap umat-Nya untuk memilih agama dan kepercayaan yang akan dijalaninya. Demikian halnya menjadi Katolik, beriman katolik dan beragama katolik, bukanlah suatu keterpaksaan atau dipaksa oleh orang lain. Lewat dunia maya ini, kami menyajikan langkah-langkah yang harus diikuti oleh setiap orang yang menggunakan kehendak bebasnya akan memilih menjadi katolik, beriman katolik, beragama Katolik.

Semoga lewat dunia maya ini bisa menjadi gambaran dan jawaban bagi mereka yang terpanggil dan menjawab kehendak bebasnya dalam memilih menjadi katolik, beriman katolik, beragama Katolik.
Read On 0 comments

**** Divisi Multimedia **** Mudika Santo Stefanus Belawan JL. KARO NO. 14 BELAWAN

***** INFO GEREJA *****

1. Doa Mudika Diadakan setiap Minggu ke Dua dan ke Empat setiap bulannya, dilaksanakan di rumah angota Mudika St Stefanus Belawan dan dilakukan secara bergiliran 2. Latihan Koor dilaksanakan setiap hari Jumat, setelah misa Jumat malam, pukul 20.00 Wib dan Hari Minggu, setelah Ibadah Mingu pagi pukul 10.00 wib 3. Latihan Futsal Dilaksanakan setiap hari Rabu Malam Pukul 19.00 Wib, bertempat di Lapangan Futsal BRONS, di depan PERTAMINA, Labuhan Deli 4. Latihan Volley Dilaksanakan setiap hari Mingu Pukul 16.00 Wib, bertempat di Lapangan Volley PERIKANAN Gabion ( dekat Rumah Bpk Marthin Sadipun ) 5. Pd tgl 22-23 Mei,,MUDIKA St.Stefanus Belawan akan Rekoleksi diCinta alam,,ada sgudang kgiatan yg tlah dperSiapkan.. Biaya/org dkenakan Rp.65000..dbyar ke Uli br.silalahi.. Apabila tmN2 mudika skalian ada memiliki suatU kgiatan,dpt dsampaikan kpd KtUa Mudika St.SteFanus belawan (saudara Felix). . Horas. . . (DIHARAPKAN SELURUH MUDIKA UNTUK MENGIKUTI SELURUH KEGIATAN DIATAS)

Admin Blog Santo Stefanus Belawan

Horas Sobat Kristus

Anda Pengunjung Ke

Followers


Our Blog List

Negara Pengunjung

free counters

Pengunjung

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Jawaban Ku Headline Animator